Popular Post

Posted by : Hendra Yulisman 21 Okt 2011

Suksesi sebagai proses perubahan

Contoh SuksesiSuksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan perkataan lain, suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosisteem seimbang.
Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk komunitas klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu komunitas terakhir dan stabil (tidak berubah) yang mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Komunitas klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau keseimbangan, yaitu suatu komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan dari berbagai perubahan dalam system secara keseluruhan.
Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan 2 macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
  1. Suksesi primer.

Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk komunitas baru. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami maupun oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat berupa tanah longsor, letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai. Gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara, timah, minyak, dan segala sesuatu yang bisa ditambang).
Suksesi primer ini berawal dengan tumbuhnya tumbuhan pionir, biasanya berupa lumut kerak. Lumut kerak mampu melapukkan batuan menjadi tanah sederhana. Lumut kerak yang mati akan diuraikan oleh pengurai menjadi zat anorganik. Zat anorganik ini memperkaya nutrient pada tanah sederhana sehingga terbentuk tanah yang lebih kompleks. Benih yang jatuh pada tempat tersebut akan tumbuh subur. Setelah itu akan tumbuh rumput, semak, perdu, dan pepohonan. Bersamaan dengan itu pula hewan mulai memasuki kkomunitas yang baru terbentuk. Hal ini diikuti dengan suksesi komunitas hewan. Secara langsung atau tidak langsung. Hal ini karena sumber makanan berupa tumbuhan sehingga keberadaan hewan pada suatu wilayah komunitas tumbuhan akan senantiasa menyesuaikan diri dengan jenis tumbuhan yang ada. Akhirnya terbentuklah komunitas klimaks atau ekosistem seimbang yang tahan terhadap perubahan (bersifat homeoesitas).
Salah satu contoh Suksesi primer yaitu peristiwa meletusnya Gunung Krakatau. Setelah letusan itu, bagian pulau yang tersisa tertutup oleh batu apung dan abu sampai kedalaman rata-rata 30 m. Adapun peristiwa suksesi primer yang terjadi setelah meletusnya Gunung Krakatau sebagai berikut :
1. Dalam tahun 1884, setahun setelah letusan, pulau itu hanya merupakan “gurun” tanpa kehidupan tumbuhan.
2. Sekitar tahun 1886, vegetasinya terdiri dari lapisan bawah ganggang biru-hijau dan lapisan atas yang terutama terdiri dari tumbuhan paku. Paku-pakuan itu terdiri dari sekitar 26 jenis tumbuhan berpembuluh.
3. Sekitar tahun 1897, vegetasinya terdiri dari rerumputan yang rapat, beberapa diantaranya setinggi orang. Spesies rumput utamanya yaitu Saccharum spontaneum, Neyraudia madagascariensis, dan Pennisetum macrostachyum. Bergabung dengan rerumputan itu terdapat berbagai tumbuhan berkeping biji dua (dikotil), termasuk berbagai tumbuhan sulur.
4. Dari tahun 1906 sampai 1919 rerumputan yang sama masih ada, tetapi tumbuhan yang tergabung mencakup Cyperaceae dan beberapa perdu. Terdapat juga sejalur lahan hutan campur yang terdiri dari pohon hutan campur Ficus dan Macaranga.
5. Sekitar tahun 1932, jalur-jalur lahan hutan Ficus-Macaranga itu telah berkembang dan meluas. Hutan itu menjadi sedemikian rindangnya sehingga hanya terdapat sedikit saja tema teduhan, walaupun pohon muda jumlahnya masih melimpah. Bahkan di antara vegetasi rumput utamanya pun bertebaran pohon Ficus dan Macaranga yang sebelumya tidak memberikan ciri perkembangan lahan hutan campur dari “sabana”. Di beberapa tempat, keteduhan di bawah pepohononan itu sudah cukup menekan pertumbuhan rumput dan memungkinkan pertumbuhan spesies tumbuhan teduhan, seperti misalnya anggrek tanah Nervilia aragoana. Di dalam jurang terdapat pertumbuhan pohon dan semak yang lebih subur, yang menggantikan rerumputan disana, dan humus bahkan telah mulai bertumpuk. Lahan hutan campuran itu lebih kaya akan spesies daripada sabana rumput, tetapi masih jauh dan kurang kaya dibandingkan dengan hutan hujan primer.
Jelaslah bahwa pembentukan kembali koloni di Krakatau itu menggambarkan dominasi yang berturut-turut, pertama-tama oleh kriptogram (di sini terutama ganggang dan paku-pakuan), disusul oleh tumbuhan jenis terna, dan akhirnya pepohonan.
  1. Suksesi Sekunder

Suksesi sekunder terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan, tetapi hanya mengakibatkan rusaknya sebagian komunitas. Pada komunitas ini, substrat lama dan sebagian kehidupan lama masih ada. Suksesi ini dapat terjadi oleh gangguan alami maupun oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat berupa banjir, gelombang Tsunami, kebakaran hutan, dan angina kencang. Adapun gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa penebangan hutan dan pembukaan lahan dengan membakar hutan.

Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa factor berikut :

  1. Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan.
  2. Jenis-jenis tumbuhan yang terrdapat di sekitar komunitas yang terganggu.
  3. Kehadiran pemencar benih (serangga, burung, hewan-hewan lainnya)
  4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji, spora, dan benih serta curah hujan.
  5. Jenis substrat baru yang terbentuk.
  6. Sifat-sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.
Suksesi tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan misalnya di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami pendangkalan oleh tanah yang terbawa aliran air. Danau yang telah tua ini disebut eutrofik.

Selanjutnya, berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis komunitas klimaks, yaitu sebagai berikut :

  1. Hidroser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air tawar.
  2. Haloser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau.
  3. Xeroser yaitu suksesi yang terbentuk di daerah gurun.
Pembentukan komunitas klimaks ini sangat dipengaruhi oleh musim dan biasanya komposisinya bercirikan spesies yang dominan.

Berdasarkan pengaruh musim terhadap terbentuknya komunitas klimaks, terdapat dua teori sebagai berikut :

  1. Hipotesis monoklimaks menyatakan bahwa pada daerah musim tertentu hanya terdapat satu komunitas klimaks.
  2. Komunitas poliklimaks mengemukakan bahwa komunitas klimaks dipengaruhi oleh berbagai factor abiotic yang salah satunya mungkin dominan.
Sekarang kamu sudah memahami proses terjadinya suksesi yang dapat membentuk suatu komunitas klimaks. Tidak semua ekosistem akan mengalami proses suksesi yang sama dengan ekosistem lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya berbagai macam tipe ekosistem dunia.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Sky of Shiroi Kiba - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -